Arsitektur memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global atau yang akrab di telinga kita dengan istilah gobal warming. Data dari ...
Sabtu, 23 Oktober 2010
Arsitektur Penyebab Utama Global Warming
Arsitektur memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global atau yang akrab di telinga kita dengan istilah gobal warming. Data dari ASEAN Center for Energy (ACE) 48% pemanasan global dihasilkan oleh bangunan. Sementara itu, hasil studi konsultan energy Inggris, Max Fordam, menyatakan bahwa, bangunan mengonsumsi 50% total konsumsi minyak nasional di Negara-negara maju, sementara di Indonesia konsumsinya berkisar antara 36-45%.
Hal ini berawal dari masa arsitektur industri (1800-1900), dimana tampilan arsitektur dunia didominasi oleh arsitektur modern dengan paham internasionalisme stylenya. Bangunan arsitektur merupakan hasil produksi manufaktur industri. Komponen komponen bangunan dapat di produksi secara masal dan dipergunakan dimana saja tanpa terlalu mempertimbangkan karakteristik iklim dan budaya lokal dan minimalisasi ornamentasi. Juga dikenalnya semen sebagai bahan utama bangunan, dimana proses pembuatan semen banyak menyerap energi dan mengeluarkan gas CO ke uadara.
Bangunan-bangunan ini mengonsumsi banyak sekali energi untuk memperoleh kenyamanan visual dan thermal (kontrol lingkungan), penggunaan AC(Air Conditioning) dan lampu yang boros energy menjadi jalan keluarnya. Penemuan elevator pengganti tangga atau peralatan-peralatan ME lainnya membuat manusia menjadi terbiasa, tanpa sadar menggunakan energy berlebihan. Padahal Untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual dalam bangunan, kondisi lingkungan internal (temperatur, kelembaban, tingkat iluminasi) dapat diatur tanpa ataupun dengan menggunakan peralatan teknologi mekanikal elektrikal yang menggunakan energy dari sumber yang tidak dapat diperbarui.
Maraknya pembangunan juga menyebabkan berkurangnya ruang terbuka hijau sebagai sumber penyerap gas carbon dioksida. Padahal sebatang pohon bisa menyerap 1 ton CO2 selama hidupnya. Bisa dibayangkan berapa ribu ton yang bisa diserap dalam 100 meter persegi lahan. Belum lagi perhitungan pelepasan CO ke udara, saat pembangunan gedung terutama gedung bertingkat.
Banyak yang bisa dilakukan oleh para perancang bangunan untuk menghemat enrgi. Salah satunya adalah dengan memilih lamu yang hemat energi. Lampu TL bisa menghemat pengeluaran 150 pound gas karbon dioksida per tahun, dibanding lampu pijar. Perancangan bangunan dengan memanfaatkan alam dan iklim yang ada, seperti contoh, di Indonesia yang hampir memperoleh sinar matahari sepanjang tahun, bisa menggunakannya sebagai pengganti penerangan di siang hari.
Saat ini di dunia sedang digalakkan pembangunan yang hemat energi. Bahkan di Amerika Serikat, arsitek yang merancang bangunan harus melalui uji kelayakan hemat energi untuk setiap karyanya. Bahkan untuk karya arsitektur tertentu harus memenuhi kriteria sustainable architecture atau arsitektur yang berkelanjutan.
Indonesia sendiri tak mau ketinggalan, meskipun dalam perancangan bangunan di Indonesia belum ada regulasi dari pemerintah yang khusus mengatur hal tersebut. Adalah Jimmy Priatman, Adi Purnomo atau Eddy Priyanto arsitek dari Indonesia yang pernah menerima penghargaan berkaitan dengan rancangannya yang hemat energi. Bahkan Eddy Priyanto penerima Award PII 2007 untuk Konsep Rumah Hemat Energi, dengan tegas menyatakan bahwa bangunan yang tidak hemat energy adalah 80% kesalahan desain arsitekturnya. Justifikasi menyakitkan yang bisa dijadikan cambuk oleh para arsitek Indonesia saat ini untuk lebih berpikir hemat energi dalam merancang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar